MANUSIA DAN CINTA KASIH
NAMA : AHMAD SOFIYAN
KELAS : 1TA05
NPM : 10315366
1.PENGERTIAN
CINTA KASIH
Cinta adalah rasa sangat suka atau sayang ataupun rasa
Sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata
kasih, artinya perasaan sayang atau cinta atau sangat menaruh belas kasihan. Dengan
demikian cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada
seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan. Terdapat perbedaan antara
cinta dan kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan
kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang
dicintai. Cinta sama sekali bukan nafsu. Perbedaan antara cinta dengan nafsu
adalah sebagai berikut :
1.
Cinta bersifat manusiawi
2.
Cinta bersifat rohaniah sedangkan
nafsu bersifat jasmaniah
3.
Cinta menunjukkan perilaku
member, sedangkan nafsu cenderung menuntut
2.
UNSUR-UNSUR CINTA
Cinta juga selalu menyatakan unsur – unsur dasar tertentu,
yaitu :
1.
Pengasuhan, contohnya cinta
seorang ibu kepada anaknya
2.
Tanggung jawab, adalah tindakan
yang benar – benar berdasarkan atas suka rela
3.
Perhatian, merupakan suatu
perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi orang lain agar mau
membuka dirinya
4.
Pengenalan, merupakan keinginan
untuk mengetahui rahasia manusia
3.TIGA UNSUR TENTANG
CINTA
Menurut
kamus umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta. Cinta adalah rasa sangat
suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada). Ataupun rasa sangat kasih atau
sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta
kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir
bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih
dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai
menaruh belas kasihan.
cinta memiliki 3 unsur
1.
keterikatan
adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, ada uang sedikit beli hadiah untuk dia
adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, ada uang sedikit beli hadiah untuk dia
2.
keintiman
adanya kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi panggilan formal seperti bapak, ibu saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya.makan sepiring berdua
adanya kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi panggilan formal seperti bapak, ibu saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya.makan sepiring berdua
3.
kemesraan
adanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen rindu kalo jauh atau lama tak bertemu, adanya ungkapan ungkapan rasa sayang dan seterusnya.
adanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen rindu kalo jauh atau lama tak bertemu, adanya ungkapan ungkapan rasa sayang dan seterusnya.
4.TINGKATAN
CINTA
Ada
tiga tingkat cinta.
1.
Pertama,
cinta atas dasar harapan mendapat sesuatu. Yaitu ketika seorang yang mencintai
kekasihnya karena menginginkan sesuatu dari kekasihnya itu. Dan sesuatu yang
diinginkannya itu biasanya berujud materi. Seorang wanita biasanya mudah
tergoda dengan materi. Isteri yang mencintai suaminya karena ingin hartanya,
berarti dia masuk dalam golongan ini. Isteri yang memijit punggung suaminya
hanya ingin jatah nafkahnya ditambah. Isteri yang menyuguhkan teh hangat
disertai seulas senyuman hanya karena ingin merayu minta dibelikan
anting-anting. Atau isteri yang rajin bersih-bersih rumah dengan niat suami
membelikan perabot baru. Semuanya masuk dalam golongan cinta tingkat ini. Cinta
seperti ini adalah tingkatan cinta yang paling rendah. Jika keinginannya tidak
terpenuhi maka kadar cinta pecinta golongan ini sontak turun tajam. Bahkan
kemudian hatinya terisi oleh bibit-bibit kejengkelan, kebencian dan kemarahan.
Sehingga bila akumulasi harapan-harapannya yang tak terpenuhi itu sudah
sedemikian besar, seringkali berujung pada perselisihan, bahkan perpisahan.
2.
Kedua,
cinta atas dasar mengharap ridho kekasih. Cinta seperti ini lebih tinggi
tingkatannya dari yang pertama. Yaitu mencintai kekasih karena semata mengharap
ridhonya. Orang yang memiliki cinta tingkat kedua ini akan melakukan apapun
secara sukarela dengan tujuan agar kekasih mendapatkan kebahagiaan. Agar
kekasih memperoleh kesenangan. Agar kekasih terhindar dari marabahaya, dll.
Terkadang ada dia berani mengambil resiko besar dalam melakukan hal-hal
tersebut. Terkadang dia bersedia melakukan sesuatu yang konyol dan memalukan.
Terkadang dia mau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Bahkan tak jarang
ada yang rela melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya sendiri. Dalam melakukan
semuanya itu, dia tidak mengharapkan imbalan dari kekasih atas apa yang
dilakukannya itu. Yang ada dihatinya hanyalah niat tulus agar kekasihnya senang
dan bahagia, itu saja. Dan inilah yang disebut cinta tulus. Dan ketika kekasih
tersenyum senang, diapun turut merasakan kesenangan itu. Manakala kekasih
bahagaia, hatinyapun turut merasa bahagia.
3.
Ketiga,
cinta atas dasar mengharap Ridho Allah sekaligus ridho kekasih. Inilah cinta
sejati. Inilah cinta tertinggi. Pada cinta jenis kedua (mengharap ridho
kekasih), adakalanya orang tersebut melakukan sesuatu dengan tulus namun apa
yang dilakukannya itu tidak diridhoi oleh Allah, Sang Pencipta Cinta. Artinya
apa yang dilakukannya itu menyimpang dari aturan-aturan agama. Jika demikian
adanya, maka dia dan kekasihnya tidak akan merasakan kebahagiaan sejati. Yang
dirasakannya hanyalah kesenangan jangka pendek dan bersifat semu. Misalnya saja
waktu sholat maghrib hampir habis dan dia membiarkan kekasihnya asyik menonton
TV karena tidak mau mengganggu kesenangannya. Atau dia terus menerus
memanjakannya dengan selalu membelikan barang-barang mewah secara mubazir dan
berfoya-foya menghamburkan uang untuk menyenangkan kekasihnya (yang tidak punya
nilai ibadah). Itu semua bertentangan dengan aturan Allah. Dan orang yang
tindakannya bertentangan dengan aturanNya tidak akan menemukan ketentraman
hidup dan kebahagiaan sejati. Sebab, yang meniupkan kebahagiaan dan ketenangan
hidup kedalam hati manusia hanyalah Allah. Dan kebahagiaan sejati di dunia ini
adalah ketika amal perbuatan seseorang itu sejalan dengan PerintahNya (sejalan
dengan nurani). Yaitu ketika amal perbuatannya itu memiliki nilai ibadah.
5. CINTA
MENURUT AJARAN AGAMA
Ada
yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan
dengan agama, tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya
cinta dalam kehidupan ini. Disatu pihak lain dalam praktek kehidupan cinta
sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan
ajaran cinta kepada manusia. Dalam kehidupan manusia cinta menempakan diri
dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri.
Kadang-kadang mencintai orang lain atau juga istri dan anaknya, hartanya. Atau
Allah dan Rasulnya berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab
suci al-Qur’an.
1.
Pertama
: Cinta Diri, cinta diri erat kaitanya dengan dorongan menjaga diri. Manusia
senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan
diri. Diantara gejala yang menunjukan kecintaan manusia terhadap harta, yang
dapat merealisasikan semua keinginanya dan memudahkan baginya segala sarana
untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup (QS,al-“Adiyat,100:8), Namun
hedaknya cinta manusia pada dirinya tidak lah terlalu berlebih-lebihan dan
melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini diimbangi dengan cinta
pada orang lain dan cinta berbuat kebajikan kepada mereka.
2.
Kedua
: Cinta Sesama Manusia, agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan
keharmonisan dengan manusia lainya,tidak boleh ia harus membatasi cintanya pada
diri sendiri dan egoismenya. Pun hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu
dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain. Al-Qura’an juga menyeru
kepada orang-orang yang beriman agar saling mencintai seperti cinta mereka pada
diri mereka sendiri. Dalam serun itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada
para mukmin agar tidak berlebih-lebihan dalam mencintai diri sendiri.
3.
Ketiga
: Cinta Seksual, cinta erat kaitanya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang
bekerja dalam melestarikan kasih sayang,keserasian, dan kerja sama anatar suami
dan istri. Ia merupakan faktor primer bagi kelangsungan hidup keluarga.
4.
Keempat
: Cinta Kebapakan, mengingat bahwa antara ayah dengan anak-anaknya tidak
terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan
anak-anaknya.
5.
Kelima
: Cinta Kepada Allah, puncak cinta manusia yang paling bening, jernih dan
spritual ialah cintanya kepada allah dan kerinduanya kepada-Nya. Tidak hanya
dalam shalat,pujian, dan doanya saja,cinta yang iklas seorang manusia kepada
allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkanya
dalam kehidupanya dan menundukan semua bentuk kecintaan lainya. Sebab dalam
pandangannya semua wujud yang ada sekelilingnya mempunyai manifestasi dari
tuhanya yang membangkitkan kerinduan-kerinduan spritualnya dan harapan kalbunya.
6.
Keenam
: Cinta Kepada Rosul, cinta kepada rosul yang diutus Allah sebagai rahmah bagi
seluruh alam semesta,menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini
karena rosul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah
laku,moral,maupun berbagi sifat luhur lainya.
6.
BENTUK-BENTUK CINTA
Ada
berbagai bentuk cinta yaitu :
1.
Cinta
Persaudaraan, diwujudkan manusia dalam tingkah atau perbuatannya. Cinta
persaudraan tidak mengenal adanya batas – batas manusia berdasarkan SARA.
2.
Cinta
Keibuan, kasih sayang yang bersumber pada cinta seorang ibu terhadap anaknya
3.
Cinta
Erotis, kasih sayang yang bersumber dai cinta erotis (birahi) merupakan sesuatu
yang sifatnya khusus sehingga memperdayakan cinta yang sesunguhnya. Namun, bila
orang yang melakukan hubungan erotis tanpa disadari rasa cinta, di dalamnya
sama sekali tidak mungkin timbul rasa kasih sayang.
4.
Cinta
Diri Sendiri, yaitu bersumber dai diri sendiri. CInta diri sendiri bernilai
positif jika mengandung makna bahwa seseorang dapat mengurus dirinya dalam
kebutuhan jasmani dan rohani.
5.
Cinta
Terhadap Allah, yaitu puncak dari cinta, karna Allah yang patut disembah.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar