PEMUDA DAN SOSIALISASI
DISUSUN OLEH NAMA : AHMAD SOFIYAN
KELAS :1TA05
NPM : 10315366
A,INTERNALISASI BELAJAR
DAN SPESIALISASI
1.PENGERTIAN PEMUDA DAN SOSIALISASI
Pemuda adalah golongan manusia manusia muda
yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, agar
dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda
di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan
kesempatan pendidikan. Keragaman tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan
perbedaan dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda.
Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengaruh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik kulminasi.
Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengaruh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik kulminasi.
Pemuda dalam pengertian adalah manusia-manusia muda, akan tetapi di Indonesia ini sehubungan dengan adanya program pembinaan generasi muda pengertian pemuda diperinci dan tersurat dengan pasti. Ditinjau dari kelompok umur, maka pemuda Indonesia adalah sebagai berikut :
Masa bayi : 0 – 1 tahun
Masa anak : 1 – 12 tahun
Masa Puber : 12 – 15 tahun
Masa Pemuda : 15 – 21 tahun
Masa dewasa : 21 tahun keatas
Masa anak : 1 – 12 tahun
Masa Puber : 12 – 15 tahun
Masa Pemuda : 15 – 21 tahun
Masa dewasa : 21 tahun keatas
Sosialisasi adalah
sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi
lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan
peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Melalui proses
sosialisasi, seorang pemuda akan terwarnai cara berpikir dan
kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan
dapat diramalkan. Dengan proses sosialisasi,
seseorang menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah
masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari keadaan
tidak atau belum tersosialisasi, menjadi manusia masyarakat dan beradab.
Kedirian dan kepribadian melalui proses sosialisasi dapat terbentuk. Dalam hal
ini sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar
dan menyesuaikan diri, bagaiman cari hidup dan bagaimana cara berpikir
kelompoknya gar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Sosialisasi
merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan
hubungannya dengan sistem sosial.
2.INTERNALISASI
BELAJAR DAN SOSIALISASI
Internalisasi
belajar dan Sosialisasi proses peresapan pengetahuan ke dalam pikiran. Dalam
proses ini, pengetahuan eksplisit (kelihatan, biasanya dalam bentuk simbol dan
kode) diubah ke dalam bentuk tasit (tak kelihatan). Contoh internalisasi adalah
membaca buku, cetak maupun digital. Buku cetak tentu tak perlu dihadirkan
dengan teknologi informasi. Sedangkan buku digital atau elektronik memerlukan
teknologi informasi.
3.PROSES
SOSIALISASI
Proses
sosialisasi adalah proses pembentukan sikap loyalitas sosial. Loyalitas sosial
atau kesetiaan sosial adalah perkembangan dari sikap saling menerima dan saling
memberi kearah ang lebih baik. Kita sangat mudah melihatnya pembentukan kesetiaan sosial ini
adalah dalam keluarga. Setiap anggota keluarga selalu setia sesamanya. Di dalam
kelompok dan masyarakat juga kesetiaan sosial ini berkembang, sebagai dasar
kesatuan dan persatuan dalam masyarakat. Dengan kata lain kesetianan sosial
berkembang mulai dari kelompok yang sederhan hingga kelompok yang lebih luas.
Ada
minimal tiga hal yang harus dilakukan agar tumbuh dan kembangnya sikap
loyalitas sosial ini yakni, pertama kita harus saling berkomunikasi baik dalam
keadaan berdekatan ataupun dalam keadaan berjauhan (tempat tinggal). Dengan
komunikasi yang teratur kita akan saling mengetahui kabar dan berita di antara
kita. Sakit atau senang diantara kita dapat dengan cepat kita mengetahuinya.
Kedua,
sering bekerja sama menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Misalnya bergotong
royang atau melakukan arisan. Kerja sama dapat saja dilakukan dalam kelompok
kecil(minimal dua orang) atau pun dalam kelompok yang besar (yang jumlah
anggotanya banyak).
Ketiga,
dalam kehidupan atau pergaulan sesama kita, sikap tolong menolong harus
dikembangkan. Berbagai kesulitan hidup yang kita alami pantas kita minta tolong
kepada orang lain atau teman. Begitu pula sebaliknya bila kawan kita yang
mengalami kesusahan wajib pula kita membantunya. Tentu saja dasarnya adalah
suka saling menerima dan memberi.
4.PERANAN SOSIAL
MAHASISWA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Pada masa 1990 sampai 2000 an demonstrasi masih marak
di berbagai tempat. Pada masa itu mahasiswa dan pemuda menyebutkan dirinya
sebagai Gerakan Moral. Sedangkan pada mahasiswa yang lain gerakan mahasiswa
menyebutkan dirinya sebagai gerakan Politik.
Mahasiswa menjadi pecah dan terkadang pragmatis.
Tidak menjadi rahasia umum lagi mahasiswa dibayar untuk berdemonstrasi.
Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat,
kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. Mahasiswa
mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang sedang
menempuh pendidikan. Pada saatnya nanti sewaktu mahasiswa lulus kuliah, ia akan
mencari kerja dan menempuh kehidupan yang relatif sama dengan warga yang lain.
Dasar Pemikiran neoliberalisme “pasar adalah tuan dan
negara adalah pelayan” salah satu contoh yang paling baru mengenai kekalahan
negara/pemerintah terhadap pasar adalah harga minyak yang naik.
Paradigma pasar menguhah cara berpikir dan persepsi
masyarakat. Dominasi kapitalisme memutarbalikkan hubungan antara masyarakat
(sosial) dan Pasar (ekonomi) (Polanyi, 1957).
Pada awal beroperasinya kapitalisme, pasar merupakan
bagian dari masyarakat. Operasionaliasi norma-norma pasar berakar dan dibatasi
norma sosial, kultural, dan politik. Masyarakat merupakan pemegang kunci dalam
hubungan sosial dan ekconomi. Tapi ketika kapitalisme mendominasi, keberadaan
pasar telah berbalik 180 derajat, masyarakatlah yang menjadi bagian dari pasar.
kehidupan sehari-hari pun direduksi menjadi bisnis dan pasar.
Dampak langsung yang bisa dirasakan semenjak kenaikan
BBM tahun 2005 antara lain terjadi inflasi, daya beli masyarakat menurun,
kesehatan masyarakat menurun (kekurangan gizi), angka anak putus sekolah (drop
out), angka kematian anak, pengangguran dan kemiskinan meningkat, sehingga
munculnya kerentanan sosial.
Keadaan di atas dapat mengakibatkan kemungkinan
terjadinya generasi yang hilang (the lost generation) ungkapan yang telah
nyaris menjadi klise, jika persoalan anak dan orang muda tidak dapat diatasi
dengan baik khususnya di sektor Gizi dan kesehatan serta pendidikan, maka kita
akan kehilangan sebuah generasi, yang menjadi pertanyaan apakah benar
bahwasanya satu generasi yang akan hilang ? kehilangan generasi mempunyai implikasi
yang luas mereka mungkin tidak akan mampu menyisakan pendapatannya untuk
memperbaiki kesejahteraanya sendiri hingga lingkaran setan pun terjadi karena
Gizi yang rendah, prestasi sekolah yang pas-pasan, kemungkinan anak akan drop-
out dan harus mempertahan kan hidup dan pengangguran.
Secara tak sadar namun perlahan tapi pasti, para
generasi muda dihinggapi dengan idiologi baru dan perilaku umum yang mendidik
mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja
dan malas mengatasi kesulitan, hambatan dan proses pembelajaran tidak
diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Sarana tempat hiburan tumbuh pesat bak “jamur di
musim hujan” arena billyard, playstation, atau arena hiburan ketangkasan
lainnya, hanyalah tempat bagi anak-anak dan generasi muda membuang waktu secara
percuma karena menarik perhatian dan waktu mereka yang semestinya diisi dengan
lebih banyak untuk belajar, membaca buku di perpustakaan, berorganisasi atau
mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih positif.
Peran pemuda yang seperti ini adalah peran sebagai
konsumen saja, pemuda dan mahasiswa berperan sebagai “penikmat” bukan yang
berkontemplasi (pencipta karya). Dapat ditambahkan disini persoalan NARKOBA
yang dominan terjadi di kalangan generasi muda yang memunculkan kehancuran
besar bagi bangsa Indonesia.
Sudah 70 tahun bangsa Indonesia merdeka, sistem
pendidikan telah dibaharui agar mampu menjawab berbagai perubahan diseputaran
kehidupan umat manusia. Tetapi selesai kuliah barisan penganggur berderet-deret.
Para penganggur dan setengah penganggur yang tinggi merupakan
pemborosan-pemborosan sumber daya, mereka menjadi beban keluarga dan
masyarakat, sumber utama kemiskinan yang dapat mendorong peningkatan keresahan
sosial dan kriminal dan penghambat pembangunan dalam jangka panjang.
B.PEMUDA DAN IDENTITAS
1. Pola Dasar Pembinaan Dan Pengembangan Generasi
Muda
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor:0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978. Maksud
dari Pola Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda adalah agar semua pihak yang
turut serta dan berkepentingan dalam penanganannya benar-benar menggunakan
sebagai pedoman sehingga pelaksanaannya dapat terarah, menyeluruh dan terpadu
serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang dimaksud.
Pola dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
disusun berlandaskan:
1.
Landasan idiil
yaitu Pancasila
2.
Landasan
kostitusional yaitu Undang-undang Dasar 1945
3.
Landasan
strategis yaitu Garis-garis Besar Haluan Negara
4. Landasan historis yaitu Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan
RI
5. Landasan normative yaitu etika, tata nilai dan tradisi luhur
yang hidup dalam masyarakat
2.Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda menyangkut
dua pengertian pokok yaitu:
- Generasi Muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal-bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam keterlibatannya secara fungsional bersama potensi lainnya, guna menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta pembangunan nasional.
- Generasi muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi dan kemampuan-kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.
3.Pemuda dan Permasalahan
Berbagai permasalah generasi muda yang muncul pada
saat ini antara lain adalah:
·
Menurunnya Idealisme,
patriotisme, dan nasionalisme di kalangan generasi muda
·
Kekurang pastian yang dialami
oleh generasi muda terhadap masa depannya.
·
Belum seimbangnya antar jumlah
generasi muda dengan fasilitas pendidikan
yang tersedia, baik formal maupun non formal.
·
Kurangnya lapangan kerja
/kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran / setengan pengangguran
di kalangan generasi muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional
dan memperlambat lajunya perkembangan pembangunan nasional.
·
Kurangnya Gizi yang dapat
menyebabkan hambatan bagi perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di
kalangan generasi muda.
·
Masih banyaknya perkawinan di
bawah umur, terutama di kalangan masyarakat pedesaan.
·
Pergaulan bebas yang membahayakan
sendi-sendi perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
·
Meningkatnya kenakalan remaja
termasuk penyalahgunaan narkotika.
4.Potensi-Potensi Generasi Muda
Potensi-potensi yang ada pada generasi muda yang
perlu dikembangkan adalah:
·
Idealisme dan Daya Kritis
·
Dinamika dan Kreatifitas
·
Keberanian mengambil resiko
·
Optimis dan kegairahan semangat
·
Sikap kemandirian dan disiplin
murni
·
Terdidik
·
Keanekaragaman dalam Kesatuan dan
Persatuan
·
Patriotisme dan Nasionalisme
·
Sikap Ksatria
·
Kemampuan penguasaan ilmu dan
teknologi
C.PERGURUAN DAN PENDIDIKAN
Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor yang
sangat menentukan dalam proses pembangunan. Hal ini karena manusia bukan
semata-mata menjadi obyek pembangunan tetapi juga merupakan subyek pembangunan.
Sebagai subyek pembangunan, maka setiap orang harus terlibat secara aktif dalam
proses pembangunan, sedangkan sebagai obyek, maka hasil pembangunan tersebut
harus bisa dinikmati oleh setiap orang.
Disinilah terletak arti penting dari pendidikan
sebagai upaya terciptanya kualitas sumber daya manusia, sebagai prasarat utama
dalam pembangunan. Suatu bangsa akan berhasil dalam pembangunannya secara “self
propelling” dan tumbuh menjadi bangsa yang maju apabila telah berhasil memenuhi
minimum jumlah dan mutu (termasuk relevansi dengan pembangunan) dalam
pendidikan penduduknya. Moderenisasi Jepang merupakan contoh prototipe dalam
hubungan ini.
Dalam hal inilah, maka pembicaraan tentang generasi
muda/pemuda, khususnya yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi menjadi
penting. Karena berbagai alasan;
Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh
pendidikan terbaik, mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang
masyarakatnya, karena adanya kesempatan untuk terlibat didalam pemikiran,
pembicaraan serta penelitian tentang berbagai masalah yang ada dalam
masyarakat.
Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama
dibangku sekolah, maka mahasiswa mendapatkan proses sosialisasi terpanjang
secara berencana, dibandingkan dengan generasi muda/pemuda lainnya, dan melalui
pelajaran seperti, PPKN, Sejarah dan Antropologi maka berbagai masalah
kenegaraan dan kemasyarakatan dapat diketahui.
Ketiga, mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis
dan suku bangsa dapat menyatu dalam bentuk terjadinya akulturasi sosial dan
budaya dimana hal ini akan memperkaya khasanah kebudayaannya, sehingga mampu
melihat Indonesia secara keseluruhan.
Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan
memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan. Struktur perekonomian dan
prestise di dalam masyarakat, dengan sendirinya merupakan elite di kalangan
generasi muda/pemuda, umumnya mempunyai latar belakang sosial, ekonomi dan
pendidikan lebih baik dari keseluruhan generasi muda lainnya. Dan adalah jelas
bahwa mahasiswa pada umumnya mempunyai pandangan yang lebih luas dan jauh
kedepan serta ketrampilan berorganisasi yang lebih baik dibandingkan dengan
generasi muda lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar